Profesional

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Pakar: Bukan Berarti Tidak Ambisius

TopCareer.id – Generasi muda seperti Gen Z, belakangan disebut-sebut lebih memilih punya work-life balance, ketimbang naik jabatan.

Menurut Rahmi Damayanti, dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, tren ini harus dilihat secara utuh. Ia menyebut, keputusan semacam itu bukan berarti Gen Z tidak ambisius atau ogah berkembang.

“Yang terjadi sebenarnya adalah adanya pergeseran orientasi mengenai makna keberhasilan dalam bekerja,” kata Rahmi, mengutip laman resmi IPB University, Senin (7/9/2026).

Dia menjelaskan, bagi sebagian gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural.

Keberhasilan juga dilihat dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri.

Sementara, jika melihat dari perspektif ilmu keluarga, pekerjaan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga.

Baca Juga: Anak Muda RI Percaya Diri, Tapi Masih Minim Pengalaman Dunia Kerja

Saat tuntutan pekerjaan semakin besar sementara waktu dan energi untuk keluarga atau kehidupan personal semakin berkurang, seseorang bisa saja mempertimbangkan kembali pilihan kariernya.

“Karena itu, menurut saya, keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan semata-mata menunjukkan keengganan untuk menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier,” kata Rahmi.

Ia mengatakan, Gen Z juga ada di dunia kerja yang berubah karena digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, serta meningkatnya kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan kesejahteraan.

Namun, tren ini tidak bisa digeneralisasi ke seluruh kelompok generasi muda.

Rahmi mengatakan, tetap ada Gen Z yang punya aspirasi untuk memimpin, namun menginginkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi atau keluarga.

Organisasi harus terapkan pekerjaan ramah keluarga

Di sisi lain, tantangan bagi organisasi adalah bagaimana mereka bisa mendesain pekerjaan dan posisi kepemimpinan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Rahmi mengatakan, ada beberapa yang bisa dilakukan, salah satunya dengan menerapkan pekerjaan ramah keluarga (family-friendly workplace).

Ini berarti sistem, kebijakan, dan lingkungan kerja yang mendukung seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier, sekaligus tetap dapat menjalankan fungsi dan tanggung jawab keluarganya.

Hal ini bisa diwujudkan dengan fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, cuti, dan waktu kerja yang lebih adaptif, serta budaya organisasi yang tidak menjadikan kerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas.

Rahmi menegaskan, pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas atau tuntutan profesional.

Baca Juga: Gen Z dan Milenial Lebih Pilih Karier Stabil daripada Cepat Jadi Bos

“Justru, pendekatan ini mendorong terciptanya sistem kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa harus mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, dunia kerja juga perlu menyediakan jalur karier yang beragam. Tidak hanya jalur manajerial, tetapi juga jalur keahlian profesional atau individual contributor.

Menurut Rahmi, regenerasi kepemimpinan dapat dipersiapkan dengan mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, dan pengalaman memimpin secara bertahap.

“Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup,” ujar Rahmi.

Work-life balance bukan mengurangi tanggung jawab

Tren Gen Z ogah naik jabatan pun dinilai bisa menjadi momen bagi dunia kerja, untuk mendefinisikan kembali keberhasilan secara lebih multidimensional. Rahmi mengatakan, bagi gen Z, work-life balance juga perlu dimaknai secara tepat.  

“Keseimbangan bukan berarti mengurangi tanggung jawab atau membatasi pengembangan diri, tetapi mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap bertanggung jawab, dan terus bertumbuh,” ia menegaskan.

Untuk itu, yang perlu dibangun bukan generasi muda yang “dipaksa mengejar jabatan.”

“Tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka,” pungkasnya

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button